"I am life which wills to live, and I exist in the midst of life which wills to live"

-albert schweitzer-

September 27, 2014

Unfortunately in Love


Ini buah pemikiran, dari apa yang saya rasakan beberapa bulan belakangan ini.
Ketika lupa akan ego pribadi demi puncak-puncak karir, hutan, gunung dan camino, ketika dorongan primitif mampu menyingkirkan mimpi.


Love

Saya teringat akan salah satu permainan psikologi proyeksi (kokology) yang cukup populer. Pada permainan tersebut, seseorang diminta untuk membayangkan dirinya berjalan sendirian. Kemudian membayangkan sebuah dompet/tas yang tergeletak di tengah jalan, sementara tidak ada orang lain di sekitar tempat tersebut. Kemudian saat memeriksa siapa pemilik dompet/tas tersebut, yang ada hanya sejumlah uang tunai menyembul keluar. Kemudian seseorang ini diminta untuk melukiskan reaksi pertamanya saat menghadapi saat-saat seperti itu.

Yang membuat saya tertarik adalah gambaran proyeksi pada permainan ini, yaitu ketika sebuah dompet/ tas yang berisi setumpuk uang tunai, merupakan analogi dari cinta atau lebih tepatnya jodoh. Sementara reaksi pertama seseorang pada situasi tersebut, merupakan deskripsi perasaan di saat menghadapi cinta atau lebih tepatnya jodoh, yang tiba-tiba datang menghampirinya.



What is love? Menurut pemahaman saya yang sampai saat ini sama sekali tidak percaya dengan istilah platonic love, apa yang saya pahami mengenai jatuh cinta dan menjalin hubungan adalah sesuatu yang sangat primitif seperti manusia itu sendiri. Cinta bagi saya hanya bentuk konotasi positif dari hasrat primitif seseorang untuk berkembang biak, berkembang biak itu sendiri secara normatif tentu saja tidak dapat diterima. Sehingga manusia dengan akalnya perlu menahan hasrat tersebut dengan cara perlahan. Mulai dari merasa tertarik, melakukan pendekatan, merasa ingin memiliki, tidak ingin kehilangan yang sudah menjadi miliknya, menjalin hubungan dan kesepakatan, lalu menyisipkan ritual yang merupakan warisan budaya sebagai bentuk ikatan, peraturan dan legalitas, baru kemudian dapat berkembang biak dengan dasar kesepakatan, ikatan dan legalitas itu tadi. Walaupun di luar pengertian tersebut saya percaya pada konsep kasih sayang terhadap sesama.

Tepat pada 15 Oktober 2014 kemarin, adalah 10 tahun sejak pertama kalinya saya memiliki pasangan. Lucu sepertinya ketika membicarakan cinta pada waktu itu, entah karena dorongan hormon yang turun naik. Seperti rindu yang tak kunjung henti saat sedang naik, namun kemudian lupa memiliki pasangan dan memilih berada di game-net selama berhari-hari pada saat sedang turun. Konsep inilah yang berkembang dalam diri saya selama bertahun-tahun, dan saya terapkan pada yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

Dalam waktu yang cukup lama tersebut, logika yang selama ini menjadi pegangan tidak pernah mengungguli konsep normatif yang dibuat manusia itu sendiri, mungkin terlalu dini. Orang-orang mungkin berbicara mengenai pelajaran yang saya dapatkan dari apa atau beberapa yang pernah saya lalui tersebut. Namun, saya sungguh malu, karena jika mengacu pada konsep sebelumnya dan dihubungkan dengan beberapa kali saya berganti pasangan, mungkin saya tidak lebih baik daripada binatang.




Fortune

Cinta atau jodoh dianalogikan dengan dompet berisi penuh uang tunai, yang melambangkan rejeki atau keberuntungan. Keberuntungan atau rejeki dapat datang secara tiba-tiba seperti halnya saat kita mendapatkan sebuah dompet atau tas di jalan. Sementara reaksi orang berbeda-beda apabila dihadapkan hal serupa. Dalam tes tersebut, hal ini mewakili reaksi seseorang jika tiba-tiba ada seseorang menghampiri untuk memulai proses dalam konsep normatif tadi, yaitu melakukan pendekatan.

Setiap orang pada dasarnya mengharapkan rejeki yang datang dari Tuhan, dengan doa dan syukur setiap harinya. Bahkan dalam ajaran agama saya, ada doa wajib yang diajarkan langsung oleh Tuhan sendiri yang di dalamnya ada sebuah bait “berikanlah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami”. Apakah rejeki ini dapat kita tolak atau kita simpan dan tabung saja untuk kemudian hari? Apakah rejeki yang datangnya dari Tuhan ini dapat disandingkan dengan hasrat primitif manusia? Apakah kita dapat memilah dan memilih rejeki mana saja yang dapat kita terima dan rejeki mana yang akan kita tolak?



Rejeki vs Cobaan

Suatu ketika, sudah hampir seminggu saya hidup bergantung pada kebaikan teman-teman saya. Uang bulanan sudah habis dan belum sempat dikirimkan oleh orang tua saya, sementara pekerjaan-pekerjaan sampingan sudah tidak ada. Di pagi yang cerah saya berdoa, namun tidak seperti biasanya, dengan menantang Tuhan untuk kelangsungan hidup saya.

Saya berjalan menuju kampus dengan mempersiapkan semangat yang dibuat-buat. Entah apa yang membuat saya dalam perjalanan menghentikan kendaraan saya, melihat sebuah bangku panjang di pinggir jalan. Duduk sebentar di bangku tersebut, mengambil sejumput tembakau kering yang biasanya saya bakar hanya saat saya berada di gunung. Merilekskan diri sejenak, membaca sms-sms yang belum sempat terbalas. Lalu ada sesuatu yang terasa berbeda pada pijakan kaki saya. Saya injak berulang kali untuk meyakinkan diri saya mengenai isinya. Sebuah amplop putih polos nan lusuh yang entah sudah berapa kali terinjak, termasuk barusan oleh kaki saya sendiri.

Sambil masih terheran-heran saya mengambil amplop itu, menerawang sebentar isinya, dan langsung saya masukan ke dalam tas saya. Seketika saya menyalakan kendaraan, tarik gas kencang-kencang kembali ke kost dan melupakan kuliah pagi itu. Sampai di kost, saya masih membolak-balik amplop tersebut, entah berharap atau tidak, adanya sebuah petunjuk yang menuju pada si pemilik amplop. Setelah saya yakinkan diri bahwa tidak ada petunjuk, saya sobek perlahan dan saya keluarkan isinya. Kemudian saya lanjutkan mencari petunjuk ke bagian dalam dari amplop tersebut, nihil.

Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut ataupun pikiran saya saat itu. Saya memandang Salib yang terpampang di dinding kamar saya, seketika saya ambil lalu bawa keluar kamar dan langsung saya lemparkan jauh-jauh ke arah sungai yang tepat berada di samping rumah kost saya. Sambil merasa ketakutan akan apa yang saya ucapkan tadi pagi, saya menuju bank dengan kebingungan dan menyetorkan isi dari amplop tersebut ke dalam rekening saya sendiri. Dari isi amplop tersebut, mampu menopang kebutuhan sehari-hari saya dan hobi saya naik gunung selama lebih dari 6 bulan.




Sepuluh Tahun Sejak Yang Pertama,
Jika Tuhan Mengijinkan Saya Menggantikan Sang Amplop..

Menjadi rejeki adalah kesediaan untuk mampu memberi dengan ikhlas. Namun ada kalanya keikhlasan tidak dapat diterima orang begitu saja. Seperti halnya saya yang pernah meminta, namun saat diberikan, saya pun harus memastikan berulang kali pada bagian luar dan dalam dari amplop rejeki yang diberikan pada saya. Seperti halnya amplop putih yang pernah saya temukan, saya harus rela diinjak-injak terlebih dahulu, agar dengan rela memberikan gambaran akan isi yang terkandung di dalamnya. Seperti sang amplop yang akhirnya telah lusuh, saya harus rela mendapat injakan-injakan keraguan dari orang-orang calon penerima rejeki, sampai akhirnya ada orang peka karena benar-benar membutuhkan, seperti diri saya sendiri pada waktu itu. 

Wujud kecintaan Tuhan padaku, dan wujud cintaku padamu..

Amin.

No comments:

Post a Comment